Helpin
Semua artikel

Tips Skripsi · 18 Oktober 2026 · Ditinjau oleh Fajrul, pendiri Helpin

7 Kesalahan Format Skripsi yang Bikin Revisi Bolak-balik

Isi sudah disetujui, tapi skripsi dikembalikan karena format. Ini tujuh kesalahan format yang paling sering terjadi dan cara memperbaikinya di Word.

Jawaban singkat

Tujuh kesalahan format skripsi yang paling sering membuat revisi bolak-balik: margin dan ukuran kertas tidak sesuai pedoman, nomor halaman Romawi dan Arab tercampur, judul bab tidak memakai Styles, daftar isi diketik manual, caption tabel dan gambar tidak konsisten, spasi dan paragraf tidak seragam, dan daftar pustaka tidak konsisten. Acuan utamanya buku pedoman kampusmu.

7 Kesalahan Format Skripsi yang Bikin Revisi Bolak-balik

Isi skripsi sudah disetujui pembimbing, tapi naskah dikembalikan oleh penguji atau bagian akademik karena format. Margin salah, nomor halaman loncat, daftar isi tidak cocok. Revisi kecil seperti ini menyita waktu, apalagi menjelang batas unggah.

Berikut tujuh kesalahan format yang paling sering terjadi. Sebelum memperbaiki, siapkan buku pedoman penulisan skripsi kampusmu. Aturan tiap kampus berbeda, dan pedoman itulah acuan utamanya.

Panduan lengkap soal margin, gaya sitasi, nomor halaman, dan daftar isi otomatis di Word juga ada di panduan format skripsi milik Pembimbing Skripsi.

1. Margin dan ukuran kertas tidak sesuai pedoman

Banyak pedoman meminta kertas A4 dengan margin kiri lebih lebar untuk jilid (misalnya 4 cm kiri, 3 cm sisi lain). Masalahnya, Word sering memakai ukuran Letter secara bawaan.

Cara cek: Layout → Size (pastikan A4) → Margins → Custom Margins. Atur sekali di awal dokumen dan pilih "Apply to: Whole document".

2. Nomor halaman Romawi dan Arab tercampur

Bagian awal (halaman judul sampai daftar lampiran) biasanya memakai angka Romawi kecil (i, ii, iii). Mulai Bab 1 memakai angka Arab (1, 2, 3). Kesalahan umum: semua halaman memakai angka Arab, atau nomor Bab 1 tidak mulai dari 1.

Cara benar: pisahkan bagian dengan Section Break. Taruh kursor di akhir halaman sebelum Bab 1 → Layout → Breaks → Next Page. Lalu di nomor halaman Bab 1, matikan "Link to Previous" dan atur format nomor mulai dari 1.

3. Judul bab tidak memakai Styles

Kalau judul bab dan subbab hanya ditebalkan manual, Word tidak mengenalinya sebagai judul. Akibatnya daftar isi otomatis tidak bisa dibuat, dan format antarbab tidak seragam.

Cara benar: pakai Heading 1 untuk judul bab, Heading 2 untuk subbab, Heading 3 untuk sub-subbab. Ubah tampilan Heading sesuai pedoman (font, ukuran, rata tengah atau kiri), lalu klik kanan → Update to Match Selection.

4. Daftar isi diketik manual

Daftar isi manual hampir pasti tidak cocok dengan nomor halaman setelah revisi. Penguji sering menemukan halaman yang meleset.

Cara benar: setelah semua judul memakai Styles, buat daftar isi otomatis. Langkah lengkapnya ada di cara membuat daftar isi otomatis di Word.

5. Tabel dan gambar tanpa caption yang konsisten

Kesalahan yang sering muncul: nomor tabel tidak urut, judul tabel di bawah padahal pedoman meminta di atas, atau sumber tabel tidak dicantumkan.

Cara benar: pakai References → Insert Caption. Umumnya judul tabel di atas tabel dan judul gambar di bawah gambar, tapi ikuti pedoman kampusmu. Dengan caption otomatis, kamu juga bisa membuat daftar tabel dan daftar gambar otomatis.

6. Spasi dan paragraf tidak seragam

Ada paragraf berspasi 1,5, ada yang 2. Ada yang menjorok, ada yang tidak. Biasanya ini akibat menyalin teks dari dokumen lain.

Cara benar: pilih seluruh teks isi, lalu atur di Paragraph: spasi baris sesuai pedoman, spacing before/after 0, dan indentasi baris pertama (misalnya 1,25 cm). Lebih baik lagi, ubah Style "Normal" supaya semua paragraf baru otomatis mengikuti.

7. Daftar pustaka tidak konsisten

Gaya penulisan bercampur, urutan tidak alfabetis, atau ada sumber di teks yang tidak muncul di daftar pustaka. Ini salah satu bagian yang paling sering dicoret penguji.

Cara benar: pakai pengelola referensi atau fitur sitasi Word. Panduannya ada di cara menyusun daftar pustaka otomatis di Word.

Kebiasaan yang mencegah masalah format

  • Atur format di awal, bukan di akhir. Margin, Styles, dan nomor halaman sebaiknya beres sebelum Bab 1 ditulis.
  • Tempel teks sebagai teks biasa. Saat menyalin dari sumber lain, pakai Paste Special → Unformatted Text supaya format liar tidak ikut.
  • Satu dokumen untuk semua bab. Menggabungkan file bab di akhir sering merusak penomoran.
  • Simpan cadangan. Simpan versi bertanggal sebelum perubahan besar.

Kesalahan kecil lain yang sering dicoret

Selain tujuh kesalahan utama di atas, beberapa hal kecil ini juga sering muncul di catatan revisi:

  • Judul subbab sendirian di bawah halaman. Judul tercetak di baris terakhir, sedangkan isinya pindah ke halaman berikutnya. Atasi dengan mencentang Keep with next di pengaturan Paragraph untuk Style Heading.
  • Tabel terpotong ke halaman berikutnya tanpa keterangan. Kalau tabel memang panjang, ulangi baris judul tabel di halaman berikutnya (Repeat Header Rows), atau tambahkan keterangan "lanjutan" sesuai pedoman.
  • Istilah asing tidak dimiringkan. Kata seperti purposive sampling atau online biasanya ditulis miring. Konsisten di seluruh naskah.
  • Singkatan tidak dijelaskan di penyebutan pertama. Tulis kepanjangannya dulu, lalu singkatannya di dalam kurung.
  • Penulisan angka tidak konsisten. Ada yang "lima", ada yang "5" untuk konteks yang sama. Ikuti aturan pedoman atau ejaan baku.
  • Halaman kosong tersisa setelah section break. Tampilkan simbol format (tombol ¶ di tab Home) untuk menemukannya.

Checklist format sebelum mendaftar sidang

Jalankan checklist ini sekali sebelum naskah dicetak atau diunggah:

  • Ukuran kertas dan margin sesuai pedoman di seluruh dokumen.
  • Nomor halaman Romawi di bagian awal, Arab mulai Bab 1, tanpa ada yang loncat.
  • Semua judul bab dan subbab memakai Heading.
  • Daftar isi, daftar tabel, dan daftar gambar sudah diperbarui (klik kanan → Update Field).
  • Nomor tabel dan gambar urut, judulnya di posisi yang benar.
  • Spasi, font, dan indentasi seragam.
  • Semua sitasi di teks ada di daftar pustaka, dan sebaliknya.
  • Halaman pengesahan dan pernyataan keaslian sesuai format terbaru kampus.
  • Naskah sudah disimpan sebagai PDF dan dibuka ulang untuk dicek tampilannya.

Pertanyaan yang sering muncul

Font apa yang biasa dipakai untuk skripsi?

Times New Roman 12 pt paling umum, tapi beberapa kampus memakai font lain. Ikuti pedoman kampusmu.

Apakah format salah bisa membuat sidang ditunda?

Bisa, kalau kampus mensyaratkan format sesuai pedoman sebelum naskah diterima. Lebih aman membereskannya sebelum mendaftar sidang.

Bagaimana kalau pedoman kampus tidak lengkap?

Tanyakan ke pembimbing atau bagian akademik, atau lihat skripsi terbaru di program studimu yang sudah lolos sebagai contoh.

Lebih baik menulis di Word atau Google Docs untuk skripsi?

Keduanya bisa. Google Docs praktis untuk bimbingan karena dosen bisa memberi komentar langsung. Word lebih lengkap untuk pengaturan nomor halaman, section, dan daftar isi. Banyak mahasiswa menulis di Google Docs lalu merapikan format akhir di Word.

Tidak sempat merapikan sendiri?

Layanan perapihan dokumen Helpin membantu merapikan format skripsi sesuai pedoman kampusmu: margin, penomoran, Styles, daftar isi, caption, sampai daftar pustaka.

Butuh bantuan?

Perapihan Dokumen

Hubungi Admin

Pesan sekarang

Deadline sidang mepet? Kirim file sekarang.

Admin aktif setiap hari 08.00–24.00. Konsultasi dulu juga boleh, gratis.

Ririn dan Nyonyo, maskot Helpin, memegang ijazah