Deteksi AI · 15 Oktober 2026 · Ditinjau oleh Fajrul, pendiri Helpin
Cara Kerja Deteksi AI Turnitin: Persentase dan Bintang
Turnitin punya laporan deteksi AI terpisah dari similarity. Ini cara kerjanya, arti tanda bintang (*%), dan hal yang perlu kamu tahu sebelum submit.
Jawaban singkat
Turnitin memecah dokumen jadi potongan teks, menilai seberapa mirip pola tiap kalimat dengan tulisan buatan AI, lalu menampilkan persentase prosa yang diperkirakan dibuat AI. Laporan ini terpisah dari similarity, hanya menilai prosa (bukan daftar poin, tabel, atau kode), dan butuh sekitar 300 kata prosa agar bisa dinilai. Skor ini perkiraan dan bisa salah.

Selain similarity, banyak kampus sekarang juga melihat laporan deteksi tulisan AI dari Turnitin. Mahasiswa sering bingung: apa bedanya dengan similarity, kenapa ada tanda bintang, dan apakah angka itu pasti benar?
Similarity dan deteksi AI itu dua laporan berbeda
- Similarity mengukur seberapa banyak teksmu cocok dengan sumber yang ada: internet, publikasi, dan tugas mahasiswa lain.
- Deteksi AI memperkirakan seberapa banyak kalimatmu kemungkinan ditulis oleh model AI seperti ChatGPT.
Keduanya dihitung terpisah. Skripsi bisa similarity rendah tapi skor AI tinggi, karena tulisan AI biasanya tidak cocok dengan sumber mana pun. Sebaliknya, skripsi hasil menyalin bisa similarity tinggi tapi skor AI rendah.
Cara kerjanya secara sederhana
Turnitin memecah dokumen menjadi potongan teks, lalu menilai tiap kalimat: seberapa mirip polanya dengan tulisan buatan AI. Hasilnya berupa persentase teks prosa yang diperkirakan dibuat AI.
Beberapa hal penting:
- Hanya prosa yang dinilai. Daftar poin, tabel, dan kode tidak ikut dinilai.
- Ada batas minimal panjang. Menurut panduan Turnitin dan kampus pengguna, dokumen perlu sekitar 300 kata prosa atau lebih agar bisa dinilai.
- Laporan memisahkan kategori. Turnitin membedakan teks yang diperkirakan dibuat AI dan teks AI yang kemudian diolah lagi dengan alat parafrase atau bypasser.
Arti tanda bintang (*%)
Sejak pembaruan Juli 2024, Turnitin menampilkan tanda bintang (*%) untuk skor AI yang rendah, di bawah sekitar 20%. Alasannya, Turnitin menemukan bahwa skor di rentang itu lebih rawan salah (false positive). Jadi kalau laporanmu menampilkan *%, artinya skornya rendah dan dianggap kurang bisa diandalkan, sehingga tidak ada teks yang disorot.
Skor AI bisa salah
Turnitin sendiri menyatakan skor AI tidak selalu akurat dan tidak boleh menjadi satu-satunya dasar menjatuhkan sanksi. Tulisan manusia bisa terbaca sebagai AI, terutama kalau:
- Kalimatnya sangat seragam dan formal.
- Banyak memakai frasa template, seperti "Dalam era globalisasi saat ini".
- Hasil terjemahan mesin atau alat parafrase otomatis.
- Ditulis non-penutur asli yang memakai struktur kalimat sederhana.
Penjelasan lebih lengkap ada di kenapa tulisan manusia bisa terdeteksi AI di GPTZero. Prinsipnya sama untuk Turnitin.
Apa yang sebaiknya kamu lakukan
1. Tulis sendiri, pakai AI seperlunya
AI boleh membantu mencari ide atau mengecek tata bahasa, kalau kampusmu mengizinkan. Tapi jangan menyalin teks AI mentah ke skripsi. Risikonya dibahas di stop copy-paste dari ChatGPT.
2. Simpan jejak proses menulis
Simpan draf bertahap, catatan bimbingan, dan riwayat versi dokumen (misalnya riwayat versi di Google Docs). Kalau skor AI-mu tinggi padahal kamu menulis sendiri, jejak ini bisa jadi bukti.
3. Hindari alat parafrase otomatis
Teks yang diolah alat parafrase bisa masuk kategori "AI yang diparafrase". Ini justru lebih sulit dijelaskan ke dosen.
4. Cek sebelum submit
Kalau kamu khawatir, cek dulu dengan detektor AI sebelum dokumen masuk ke pengecekan resmi. Bagian yang terbaca AI bisa kamu tulis ulang dengan gaya bahasamu sendiri.
Apakah mahasiswa bisa melihat skor AI?
Tergantung pengaturan kampus. Di banyak kampus, laporan AI hanya bisa dilihat dosen dan admin, bukan mahasiswa. Karena itu, pengecekan mandiri sebelum submit jadi penting.
Penggunaan AI: mana yang umumnya masih wajar?
Kebijakan tiap kampus berbeda, jadi selalu cek aturan di kampusmu. Sebagai gambaran umum, penggunaan AI biasanya dibedakan seperti ini:
Umumnya lebih bisa diterima (kalau kampus mengizinkan):
- Mencari ide topik atau kata kunci pencarian literatur.
- Meminta penjelasan konsep yang sulit dipahami, lalu kamu cek ulang ke sumber asli.
- Memeriksa ejaan dan tata bahasa tulisanmu sendiri.
- Membuat kerangka kasar, lalu kamu tulis sendiri isinya.
Umumnya bermasalah:
- Menyalin paragraf jawaban AI langsung ke skripsi.
- Meminta AI menulis seluruh bab.
- Memakai referensi dari AI tanpa mengecek keberadaannya. AI bisa membuat referensi yang sebenarnya tidak ada.
- Memparafrase tulisan orang lain dengan AI untuk menghindari Turnitin.
Kalau ragu, tanyakan langsung ke pembimbing. Beberapa kampus juga meminta mahasiswa menuliskan penggunaan AI di bagian metode atau kata pengantar. Untuk artikel jurnal, contoh pernyataan pemakaian AI ada di etika publikasi artikel dengan AI dari Helpin Publisher.
Kalau skor AI tinggi padahal kamu menulis sendiri
Ini bisa terjadi. Langkah yang bisa kamu tempuh:
- Tetap tenang dan jangan langsung menulis ulang semuanya. Lihat dulu bagian mana yang disorot.
- Kumpulkan bukti proses. Riwayat versi dokumen, draf lama, catatan bimbingan, dan file data penelitian.
- Bicarakan dengan pembimbing. Tunjukkan bukti dan jelaskan cara kamu menulis. Ingat, Turnitin sendiri menyatakan skor AI tidak boleh jadi satu-satunya dasar keputusan.
- Perbaiki bagian yang disorot. Variasikan panjang kalimat, kurangi frasa template, dan tambahkan contoh atau data spesifik dari penelitianmu.
- Cek ulang sebelum pengecekan resmi berikutnya.
Ciri tulisan yang cenderung terbaca AI
Detektor AI membaca pola. Tulisan cenderung terbaca AI kalau:
- Semua kalimat punya panjang dan pola yang mirip.
- Banyak kata transisi yang sama berulang, seperti "selain itu", "lebih lanjut", "dengan demikian".
- Isinya umum dan tidak menyebut data, tempat, atau contoh spesifik.
- Tidak ada pendapat atau sikap penulis.
Tulisan yang menyebut data penelitianmu, lokasi spesifik, dan argumen yang jelas biasanya lebih "manusiawi" di mata detektor, karena memang hanya kamu yang tahu detail itu.
Detektor AI lain selain Turnitin
Selain Turnitin, ada beberapa detektor AI yang sering dipakai, misalnya GPTZero. Tiap detektor memakai model dan data latih sendiri, sehingga hasilnya bisa berbeda untuk dokumen yang sama. Dokumen yang mendapat *% di Turnitin bisa saja mendapat skor lebih tinggi di detektor lain, atau sebaliknya.
Karena itu, saat mengecek mandiri, perhatikan bagian mana yang disorot, bukan hanya angka totalnya. Kalau beberapa detektor sama-sama menyorot paragraf yang sama, paragraf itu layak kamu tulis ulang dengan gaya bahasamu sendiri.
Pertanyaan yang sering muncul
Berapa skor AI yang aman?
Tidak ada standar nasional. Tiap kampus punya kebijakan sendiri, dan banyak yang belum menetapkan angka. Tanyakan ke dosen pembimbing atau lihat pedoman kampusmu.
Apakah Turnitin bisa tahu saya pakai ChatGPT atau AI lain?
Laporan Turnitin tidak menyebutkan alat AI mana yang dipakai. Laporan hanya memperkirakan bagian mana yang kemungkinan ditulis AI.
Apakah hasil GPTZero sama dengan Turnitin?
Tidak selalu. Tiap detektor punya model sendiri, sehingga skornya bisa berbeda. Perbandingannya ada di apakah GPTZero akurat.
Apakah memakai Grammarly atau pemeriksa ejaan bisa membuat skor AI naik?
Pemeriksaan ejaan biasa umumnya tidak banyak berpengaruh. Yang perlu diwaspadai adalah fitur "tulis ulang" atau "perbaiki kalimat" berbasis AI, karena fitur ini mengubah susunan kalimatmu.
Mau cek AI sebelum submit?
Pakai layanan cek GPTZero Helpin untuk melihat bagian mana yang terbaca sebagai tulisan AI. Kalau perlu diperbaiki, tersedia juga jasa parafrase GPTZero yang dikerjakan manual.
Butuh bantuan?
Cek GPT Zero
Rp5.000/file




